<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4352086348355741008</id><updated>2011-04-21T21:59:59.812-07:00</updated><title type='text'>All About Music</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4352086348355741008/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>All About Music</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08317868291002194344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_sTAtCDKOS3s/R3D1bNciQGI/AAAAAAAAAAM/Ssg6lzC2eok/S220/yahoo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4352086348355741008.post-840837962661390003</id><published>2007-12-25T04:29:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T04:30:27.184-08:00</updated><title type='text'>Histori Rock Bawah Tanah Di Indonesia</title><content type='html'>&lt;b style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt;Histori Rock Bawah Tanah Di Indonesia &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; EMBRIO kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang PePegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band-band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah hanya sedikit saja album rekaman yang terlahir dari band-band rock generasi 70-an ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Dekade 80-an tercatat sebagai masa perkembangbiakan rock n’ roll dan mulai bergeraknya subkultur ini ke arah industri. Tokoh sentral yang dominan mewarnai perkembangan musik rock di era 80-an tentu saja Log Zhelebour asal Surabaya. Mantan pengusaha rental lampu disko yang nekat mengkapitalisasi musik rock berkat dukungan perusahaan rokok ternama ini secara berkala sukses mengorganisir Festival Rock Se- Indonesia yang babak finalnya selalu digelar di kota pahlawan Surabaya. Gara-gara festival inilah media massa nasional kemudian mengklaim Surabaya sebagai barometer musik rock Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Ajang kompetisi band-band rock nasional yang digelar sejak 1984 ini di kemudian hari banyak melahirkan alumni-alumni rock kugiran yang namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, "Semut Hitam" yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal. Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica &amp;amp; Anthrax), Sucker Head (Kreator &amp;amp; Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI &amp;amp; MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya. Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 204, 51);"&gt; Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, "Rock Bergema". Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4352086348355741008-840837962661390003?l=rnkyahoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/feeds/840837962661390003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4352086348355741008&amp;postID=840837962661390003' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4352086348355741008/posts/default/840837962661390003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4352086348355741008/posts/default/840837962661390003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/2007/12/histori-rock-bawah-tanah-di-indonesia.html' title='Histori Rock Bawah Tanah Di Indonesia'/><author><name>All About Music</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08317868291002194344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_sTAtCDKOS3s/R3D1bNciQGI/AAAAAAAAAAM/Ssg6lzC2eok/S220/yahoo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4352086348355741008.post-2581107331631708148</id><published>2007-12-25T03:57:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T04:25:22.950-08:00</updated><title type='text'>SEJARAH GITAR</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(255, 255, 204);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;SEJARAH GITAR&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; Artikel ini akan bercerita tentang sejarah &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;yang diketahui&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; tentang instrumen gitar sebelum tahun 1650. Disebut &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;yang diketahui&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; karena banyak evolusi tentang instrumen ini tidak diketahui tetapi hanya diambil dari gambar-gambar, pahatan dan lain-lainnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; Alat musik &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dari Eropa akan menjadi awalnya. Alat musik ini dikembangkan dari alat musik Arab yang bernama &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Oud&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dan memiliki antara 12 sampai 24 senar dimana alat musik ini dimainkan dengan memetik sepasang senar untuk 1 nada (seperti Anda memainkan gitar 12-senar). Senarnya dibuat dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;catgut (sheep intestine)&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dan fretnya dibuat dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;catgut&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; yang diikat di seputar fingerboard/neck dengan beberapa fret dari kayu atau gading yang dilekatkan pada ujung atas soundboardnya. Fret dan soundboard memiliki ketinggian yang sama, berbeda dengan fret gitar jaman modern yang pada umumya lebih tinggi dari soundboardnya dan banyak inlay nya yang merupakan ornamen-ornamen. Bentuk instrumen ini menyerupai buah pir dan dibulatkan belakangnya seperti setengah bentuk buah melon. Bridge nya tidak memiliki saddle dan tuning head nya mirip dengan biola. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Theorbo&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; merupakan variasi dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dengan beberapa extra senar. Perbedaannya dengan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt; adalah bahwa &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Theorbo&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; memiliki senar extra seperti tersebut diatas dan tuning head yang sejajar dengan necknya, dimana tuning head untuk &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; mirip dengan biola. Nada-nadanya mencakup nada bass-bariton. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Arch lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; merupakan instrumen yang mirip dengan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; tetapi &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Arch lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; lebih condong ke arah melodi daripada &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; biasa distem dengan nada-nada tinggi. Jika gitar jaman sekarang distem di E, &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; distem di A yang merupakan dua setengah nada lebih tinggi daripada E. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; bisa distem dan dimainkan sama dengan gitar (finger picking atau pick). Ini dinamakan new tuning. Bisa juga pasangan senar yang ketiga dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; distem turun setengah nada dari new tuning. Steman untuk &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; juga tidak distandardisasi sebelum pertengahan tahun 1700an. Para pemain bisa menyetemnya sesuai dengan kemauan mereka. Jadi tidak harus distem di A. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; sendiri bukan merupakan nenek moyang langsung dari gitar, tetapi merupakan satu dari pendahulunya. Yang penting disini adalah bahwa &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; memberikan kontribusi besar kepada perkembangan gitar sampai kepada bentuknya yang sekarang ini. Dan di Spanyol, dimana gitar benar-benar dikembangkan, &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; sering disamakan dengan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;moor&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; yang menyebabkan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; tidak begitu populer. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; Instrumen lain yang tidak kalah kontribusinya dalam perkembangan gitar adalah instrumen &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Cittern&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;. Instrumen ini juga berbentuk menyerupai buah pir dengan bagian belakang yang rata, dengan empat atau lima pasang senar dari kawat dan dengan fretting yang permanen apakah itu diatonik seperti &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Appalachian Dulcimer&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; ataupun chromatic seperti gitar modern. Tuning head sudah dipasang mirip seperti pada gitar atau mandolin. Stemannya sama dengan mandolin (in fifths) dengan fingering dan chord yang sama dan dimainkan dengan plectrum atau pick. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Guitarra Moresca&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; merupakan instrumen dengan 4 pasang senar dengan bentuk oval menyerupai telur dan fretboardnya dilapisi dengan kulit seperti pada banjo. Popularitas instrumen ini adalah pada abad ke-13. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Guitarra Latina&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; juga merupakan instrumen dengan 3 atau 4 pasang senar dengan bentuk body yang kecil menyerupai ukulele bariton dan gitar parlor. Instrumen ini cukup populer di abad ke-13. Fretboard nya dibuat dari kayu tetapi sisanya menyerupai &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Guitarra Moresca&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Guittern&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; merupakan instrumen dengan 5 pasang senar dan dimainkan dengan fingerpicking atau pick. Bentuknya bervariasi tetapi yang paling umum adalah seperti bentuk biola dan mempunyai bridge dan tailpiece yang bisa digerakkan untuk mengencangkan senar, walaupun kadangkala senar dikencangkan di bridge yang tanpa saddle. Setiap pasang senar distem menurut unison tapi kadang-kadang disetem secara oktaf. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Chittarra Battente&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; adalah instrumen yang menggunakan senar kawat dan mempunyai soundboard yang sudutnya dibuat ke belakang body. Populer di tahun 1500an dan menggunakan fret permanen dari besi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Bandora&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; merupakan variasi dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;cittern&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dengan bagian body belakang yang rata dan berbentuk mirip dengan A-Style mandolin. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Vihuela De Mano&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; berasal dari Spanyol dan merupakan instrumen dengan enam pasang senar. Bodynya cukup besar seperti gitar klasik jaman sekarang dan mempunyai beberapa lubang suara di atasnya. Instrumen ini menggunakan fixed bridge dan kemungkinan merupakan nenek moyang langsung dari gitar 12 senar USA yang masuk ke Amerika Utara melalui Mexico, Texas dan Louisiana. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Four Course Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; memiliki 4 pasang senar, body berbentuk gitar dan soundboard yang rata, bridge dari &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;lute&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dan bagian belakang dibuat setengah melengkung tetapi tidak terlalu membentuk bulatan. Instrumen ini berukuran seperti gitar anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Five Course Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; muncul sekitar tahun 1490 dan mirip dengan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;four course guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dengan tambahan satu pasang senar bass. Instrumen ini dinamakan juga &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;English Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Baroque Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; muncul pada awal abad ke-17. Gitar ini menggunakan senar nilon, mempunyai body yang panjang dan slim dengan bagian atas dan bawah yang sama besarnya. Tuning headnya dibuat dari kayu dan dipasang seperti pada gitar klasik. Fretnya apakah terbuat dari kayu, metal ataupun gading adalah permanen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; Semua instrumen yang tersebut diatas kebanyakan mempunyai fingerboard yang sama tingginya dengan soundboardnya. Fingerboard yang dinaikkan seperti sekarang ini belum ada sampai dengan adanya Parlor Guitars. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Six String Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; gitar yang sebenarnya, belum berkembang sampai dengan tahun 1750. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  &lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Parlor Guitars&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; sangat mirip dengan &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Baroque Guitar&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; dengan perkecualian bahwa tuning untuk &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt;Parlor Guitars&lt;/i&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; biasanta lebih mekanikal. Kira-kira setelah 1820, bagian bawah body dibuat lebih besar dari bagian atasnya. Gitar ini mirip dengan Washburn tahun 1887. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);"&gt; Gitar klasik modern yang kita lihat sekarang ini belum berkembang sampai tahun 1840 di Spanyol.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4352086348355741008-2581107331631708148?l=rnkyahoo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/feeds/2581107331631708148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4352086348355741008&amp;postID=2581107331631708148' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4352086348355741008/posts/default/2581107331631708148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4352086348355741008/posts/default/2581107331631708148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rnkyahoo.blogspot.com/2007/12/sejarah-gitar.html' title='SEJARAH GITAR'/><author><name>All About Music</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08317868291002194344</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_sTAtCDKOS3s/R3D1bNciQGI/AAAAAAAAAAM/Ssg6lzC2eok/S220/yahoo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
